How to make Long Distance Marriage works?

 

Banyak orang yang nanya ke aku kenapa aku memilih buat nikah padahal harus LDM. Ada juga yang berpendapat bahwa akan lebih baik kalau nanti aja nikahnya pas udah bisa tinggal bareng.

Here’s the answer: Kita (aku dan suami) nikah karena niat dari awal ketika tau masing-masing punya perasaan, kita berdua ingin punya hubungan yang halal. Selain itu, dari awal kenal kita suka ngelakuin banyak hal bareng. Ngelakuin banyak hal bareng itu membuat kita banyak interaksi. Interaksi walaupun dengan tujuan yang baik memiliki banyak celah bagi timbulnya dosa karena ada perasaan diantara kita. Well, interaksi lawan jenis nggak ada perasaan aja bisa timbul dosa, apalagi ada perasaan. So, bagi kita nikah adalah solusi terbaik, menikah bisa memaksimalkan kerjasama yang bisa kita bikin bareng-bareng.

How’s LDM life?

Setelah menjalani sekitar empat bulan LDM,here’s several things that I learned to make LDM-life works.

Cari kesibukan yang seimbang

Saling memahami kesibukan masing-masing itu penting karena suami-istri tinggal jauhan, nggak ketemu tiap hari. Hindari perbedaan kesibukan yang sangat ekstrim. Misalnya suami suami full kerja pagi-malem dan istri free seharian atau sebaliknya. Kesibukan yang berbeda secara ekstrim ini menjadi masalah karena pihak yang lebih free akan menuntut lebih banyak waktu. Ia akan merasa menunggu dan memiliki banyak harapan di waktu luangnya, sedangkan pihak yang lebih sibuk akan merasa bersalah karena tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak. So, saling mengimbangi kesibukan masing-masing itu penting.

Kesepakatan dalam komunikasi

LDM pada dasarnya ketemunya lebih jarang dibandingkan pasangan yang tinggal se rumah. Tapi ketemu yang lebih jarang bukan berarti mengurangi kualitas komunikasi. Jadi dalam komunikasi, kuantitas pasti beda jauh sama yang tinggal bareng, sehingga kualitas komunikasi penting banget. Gimana biar komunikasi berkualitas? Salah satunya dengan menentukan cara interaksi yang paling pas. Setiap pasangan memiliki cara komunikasinya masing-masing. Sepakati waktu dimana kedua belah pihak free dan akan meluangkan waktunya, apalagi buat pasangan yang LDM dengan perbedaan waktu. Misalnya aku dan suami biasanya meluangkan jam 9-10 malem. Jadi waktu suami lagi di Dublin, tiap jam 3 pagi aku bakal bangun karena disana sekitar jam 9 malem, karena nggak memungkinkan pake jam 9 malem nya Indonesia, disana masih siang dan suami belum free.

Selain waktu, cara komunikasinya juga sebaiknya dipikirkan. Video call, call biasa, WA, line sms apapun semua bisa. Hal yang harus dipertimbangkan adalah koneksi internet dan sinyal. Selain itu hal ini tergantung preferensi dan style komunikasi tiap pasangan.  Misalnya waktu aku lagi di puskesmas pedalaman jambi, sinyal susah banget makanya mau nggak mau kita beli paket nelfon antar negara karena aku dan suami lebih prefer telfon/video dibandingkan text (WA/sms).

Jadikan momen bertemu sebagai momen yang tidak terlupakan

Misalnya lakukan aktivitas yang sama-sama menjadi hobi. Aku sama suami bukan anak alam, kita kalau jalan-jalan lebih suka nyobain kuliner, biasanya kita bakal nyobain banyak makanan pas ketemu. Bagi yang sama-sama anak alam, seru juga misalnya explore ke pantai/gunung dimana sekarang wisata alam lagi super hits. Jangan lupa bawa kamera! Opsi lain yang pernah kita lakuin, adalah travel ke tempat yang sama-sama baru buat kita. Bagi pasangan yang suka travelling dan LDM Jakarta-Thailand, ketemu di Jepang buat travelling bareng bakal seru. Pernah juga aku sama suami (Jogja-Singapore), kita ketemu di Jakarta buat explore Jakarta (read: nyobain makanan Jakarta di sekitaran hotel, sama ngadem di hotel doang, wkwk). Jadi nggak melulu saling mengunjungi di kota tempat tinggal masing-masing.

Punya kolaborasi bareng

Ini adalah sesuatu yang penting juga bagi pasangan LDM yang beda jenis karir nya. Misalnya kalau suami istri sama-sama dokter kan gampang karena saling ngerti kalau ngomongin sesuatu yang pake istilah-istilah kedokteran. Nah, bikin kolaborasi bareng ini bakal bikin kita dan pasangan se-frekuensi. Kolaborasi nggak harus hal besar githu, biasanya aku sama suami ngelakuin hal-hal yang emang kita suka dan kita rasa bermanfaat. Contohnya, karena suami lagi kuliah MBA jadi aku ikutan mencoba jualan juga deh di waktu kosong nunggu internship. Suami mempelajari marketing, dia bisa ngasih saran ke aku gimana memasarkan produk aku. Atau misalnya dulu waktu kita tahun akhir kuliah, kita sama-sama kolaborasi buat submit abstract kita ke konferensi internasional bareng-bareng, meskipun bidang penelitian berbeda. Kita sama-sama berjuang fundraising bareng biar bisa berangkat presentasi.

Kepo-in pasangan

Kepo in pasangan merupakan bentuk perhatian, biar kayak ala-ala anak SMP pdkt. Jadi hal-hal tentang pasangan nggak cuma kita tahu dari apa yang dibilang oleh pasangan. Kita aktif mencari tahu, misalnya paper pasangan yang udah di publish kita baca itu paper tentang apa, jadwal kuliah pasangan, dll. Bisa juga kepo akun temen-temen pasangan, biar pas misalnya kita ikutan ngumpul sama temen-temen pasangan, kita udah familiar dan bisa ngobrol dengan lebih nyambung.

Kangen?

Salah satu sahabat aku bilang bahwa beratnya nikah itu di bulan-bulan awal karena kita lagi saling menyesuaikan. Begitupun LDM, awal-awal LDM itu berat banget karena pasti bakal saling menyesuakian dan kangen! Waktu itu aku mikir kok aku alay banget nangis-nangis cuma LDM doang. Ternyata setelah ngelihat postingan orang lain yang LDM, banyak juga yang nangis-nangis, sedih-sedih dan kangen-kangen. Jadi, wajar ternyata, banyak temennya, hhe. Tapi, disinilah salah satu hal yang dimiliki oleh pasangan LDM dan nggak dimiliki pasangan yang tinggal bareng. Karena kangen, pas bisa telfon bahagianya berlipat, karena kangen pas ketemu bahagianya belipat juga. Karena kangen, semua nya berasa jadi lebih membahagiakan. Karena kangen, doa kita buat pasangan jadi lebih dalem dan kusyuk.

So, kesimpulannya LDM itu lebih banyak bahagianya karena banyak kangennya (read: nangisnya). Sementara ini dulu, semoga bermanfaat. Akan update selanjutnya tentang per-LDM an. See yaa!

#RuliThoriqAgainstDistance #LMDstorypart1ruli-1763-01

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Berlin!

DSCF6583

Image | Posted on by | Leave a comment

AGENDA (Bochils) POST MDGs

Pada suatu hari minggu yang cerah, bochils (empat orang) dan dua orang yang kami rekrut untuk mendayung berangkat rafting ke Magelang. Sebut saja dua orang selain bochils itu adalah Pahlawan:Pemuda baik hati yang penuh pengorbanan demi Nusa dan Bangsa indonesia.

Rafting yang kali ini judulnya: Bebek Move-On Mengejar Kakek.

Kenapa?

Akan saya jabarkan per-kata:

  1. Bebek

Pada saat briefing sebelum rafting, kita dijelaskan macam-macam. Mulai dari alat-alat yang akan kita gunakan, cara mendayung, instruksi-instruksi yang akan dipakai hingga rute yang akan dilalui saat rafting. Nah, salah satu peserta rafting bertanya. Berikut percakapan yang terjadi antara pem-briefing(B) dan penanya(T):

T: Pak, itu sungainya dalem nggak?

B: Yaa, paling se-leher bebek

Lalu semuanya tertawa, termasuk saya. Nah, saat diterangkan itu saya mudeng yaa anyway bahwa artinya sungainya dalam. Namun, ada hal yang entah gimana saya meng-asosiasikan pernyataan ‘bebek’ dengan ‘sungai yang dalam’.

Jadi, ketika di tengah perjalanan rafting kita menemukan ada bebek di pinggir sungai. Refleks lah saya bilang:

‘Wah ada bebek, berarti kita udah sampai di sungai yang dalem’

Dan, semuanya ketawa. Ketawa lagi. Lagi. Nggak berhenti berhenti. Lalu mengejek saya. Lalu ketawa lagi. Ketawa lagi. Lagi. Well, saya merasa menjadi anak kecil dalam cerita The Little Prince yang menghadapi grown-up saat dia bercerita tentang masterpiece Boa-Constrictor nya.

“Children should always show great forberance toward grown-up people”

Jadi, jika Anda tidak ingin dicemooh saat rafting, jangan pernah berpikir bahwa ada atau tidaknya bebek memiliki korelasi dengan dalam atau tidaknya sungai. Demikian, pelajaran hidup hari ini. Jangan lakukan kesalahan konyol seperti yang saya lakukan diatas.

  1. Move On

Ini seharusnya adalah rafting yang menyehatkan, tempat berolahraga, membakar kalori, menikmati keindahan alam. Namun, apa yang terjadi pada rombongan rafting saya tidak begitu. Playlist not-move-on-able selalu diputar lagi dan lagi dari salah satu bochils. No mention. Dengan suaranya yang (maaf) pas-pas-an :P. Maka kita semua menyemangati bochil yang ini untuk move on, jadi lah tema move on menjadi salah satu pokok bahasan dalam rafting ini.

Selain itu, para bochils dan team, bukannya sibuk mendayung agar perahu cepat sampai justru asik makan Pop-Corn Singapore (pop-corn super enak yang box nya warna pink ini dengan penuh perjuangan berdarah-darah dibawa dari Singapore untuk rafting).

 Suasananya menjadi seperti ini: mendengarkan lagu not-move-on-able sambil makan  pop-corn saat rafting. Bapak guide kami mungkin sangat lelah, melebihi lelahnya Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wick atau lelahnya Cinta menunggu Rangga. Pukpuk, Pak.. Jadi, mungkin jika Anda sudah bosen makan popcorn di bioskop, sesekali boleh dicoba makan popcorn sambil rafting seperti yang kami lakukan. Jangan lupa, playlist nya disiapkan.

  1. Mengejar Kakek.

Pasti semuanya familiar dengan retorika Soekarno: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

Tapi, untuk kondisi rafting yang kali ini lagi-lagi tidak begitu, sebut saja pemuda-pemuda ini mungkin outlier.

Sehingga lanjutan retorika Sukarno menjadi demikian:

“….tapi 6 pemuda yang ini,…akurapopo”, lalu Soekarno mungkin akan balik kanan menembus hujan dan kemudian bilang: “mbuh lah ra dong meneh” dengan logat khusus tante bochils. 😛

Saat rafting perahu kami (yang berisi enam orang pemuda) bahkan tidak mampu mengejar perahu Kakek (yang berisi enam orang tua). Hal tersebut terjadi hingga rafting berakhir. Pemuda dan orang tua ini berasal dari satu almamater padahal.

Jadi, kesimpulannya Soekarno harus pilih-pilih pemuda yang akan dia cantumkan saat beretorika, agar retorikanya tidak dibantah oleh berbagai pihak.

Tapi, saya percaya meskipun enam pemuda ini tidak masuk dalam golongan pemuda dalam retorika Sukarno, mereka akan ‘membuat dunia menjadi lebih baik’, bukan hanya ‘mengguncangkan dunia’. Karena mungkin dunia tidak perlu diguncangkan agar bisa menjadi lebih baik.

Setiap dari kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik, dengan cara kita. Kita semua.

Our rafting only a half day, but the memories are forever.Thank you for the unforgetable day that we made. You guys are such creatures for me to marvel at.

 

I frame this queer yet unforgetable story special for today’s 3rd Bochils birthday. Happy birthday Upii. I wish you will become an inspiring woman in the world. And I wish Allah bless all your dreams. Barakallah fii umrik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada apa di ujung jalan?

Hari ini rumput liar mengajakku berbincang. Sebenarnya ini bahkan bukan semacam perbincangan, ini seperti  interogasi, aku sebagai tersangka.

Rumput liar bertanya, ‘kamu mau kemana?’

‘Berjalan sampai ujung, untuk menemui dia yang aku yakini’, jawabku.

‘Apakah ada jaminan kamu akan bertemu dia yang kamu yakini di ujung jalan?’

‘Tidak’

‘Lalu kenapa kamu masih berjalan?’

‘Karena aku yakin. Aku tidak berjalan pada sebuah kepastian, tapi keyakinan’

‘Kamu akan begitu lelah berjalan’

‘Itu resiko yang sudah aku pilih’

‘Tapi jalan ini terlalu panjang dan terjal, kamu yakin memilih jalan yang ini?’

‘Ya’

‘Jika dia tidak ada di ujung jalan, bagaimana?’

‘Ada’

‘Jika tidak ada?

Aku tersenyum, ‘ jika memang dia tidak ada aku akan menangis dan tertawa di ujung jalan untuk melepaskan….lalu berjalan lagi untuk mencari permulaan’

‘Itu akan sulit’

‘Ya, sangat sulit. Aku tau. Sangat sulit’

‘Jika aku menjadi kamu aku tidak akan berjalan pada jalan yang semacam ini, itu terlalu naif dan beresiko’

‘Sayangnya, kamu tidak akan menjadi aku. Kamu berdiam dan aku berjalan’

Pikiranku menerawang jauh oleh bayangan tentang ujung jalan. Satu hal yang tidak ingin aku bicarakan adalah segala hal tentang dia yang akan aku temui pada ujung jalan. Aku menghindari membicarakan hal-hal tentangnya bukan karena aku membencinya atau tidak yakin padanya, sama sekali tidak begitu. Hanya saja untuk sampai di ujung jalan, jalan ini masih panjang, buat apa dipikirkan. Dan dengan membicarakan aku akan memikirkan, itu samasekali tidak perlu. Saat ini aku tidak berjalan bersamanya. Aku memiliki jalan ku dan dia memiliki jalan nya. Apa yang ada di ujung jalan bukan sesuatu yang harus aku pikirkan sepanjang jalan.

Biarkan saja jalan panjang ini yang akan menguji keyakinanku dan keyakinannya. Aku hanya harus memikirkan bagaimana caranya berjalan dengan benar, bukan menghawatirkan dan berangan-angan tentang ujung jalan. Bisa-bisa aku terjatuh terantuk batu jika aku tak memikirkan apa yang ada di depanku.

‘Oiya, rumput liar…aku teringat sesuatu’, kataku

‘Kenapa?’

‘Sepertinya batu-batu ini bisa kita ubah jadi tanah yang lembut’

‘Benarkah? bagaimana caranya?

‘Kamu, hujan dan matahari bisa bekerjasama, mari aku tunjukkan’

Setelahnya kami berteman baik, membicarakan bagaimana menaklukkan kerasnya batu. Apa yang ada di ujung jalan tidak pernah lagi menjadi pembicaraan kami. Apa yang ada di ujung jalan, adalah keyakinanku yang tidak perlu dipikirkan atau dibicarakan. Sekarang, saatnya menaklukkan bebatuan.

Yogyakarta 14-12-14

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SJSN yang masih bau kencur ini akan dibawa kemana?

Sistem kesehatan di Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Hal tersebut ditandai dengan mulai diterapkannya Sistem Jaminan Sosial Nasional pada tahun 2014. Dalam UU No. 40 tahun 2004 ttg SJSN disebutkan bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Beberapa perbedaan yang terjadi di Indonesia dengan adanya SJSN yaitu seharusnya sistem pembayaran akan menitikberatkan pada penjaminan biaya kesehatan bagi rakyat miskin dengan meningkatkan partisipasi pembiayaan dari masyarakat (public financing).

SJSN dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS. BPJS meliputi BPJS Kesehatan yang menyelanggarakan jaminan kesehatan serta BPJS Ketenagakerjaan yang menyelenggarakan jaminan kecelakaan, jaminan hari tua, jaminan pensiun serta jaminan kematian. SJSN yang baru dimuali diimplementasikan ini diharapkan akan mampu mencapai Universal Health Coverage (jaminan sosial bagi seluruh rakyat) pada tahun 2019 sehingga saat ini terus dilakukan berbagai perbaikan pada pelaksanaannya. Kriteria ketercapaian Universal Health Coverage (UHC) ini meliputi jumlah penduduk yang tercakup, pelayanan kesehatan yang tercakup serta proporsi biaya pelayanan kesehatan yang ditanggung sehingga diharapkan tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.

Sayangnya, ketercapaian keadilan sosial yang dicita-citakan dalam pelaksanaan SJSN ini memiliki berbagai hambatan. Berbagai permasalahan pelayanan kesehatan di Indonesia yang masih belum terselesaikan menjadi penghalang. Perbedaan komponen pemberi pelayanan dan SDM kesehatan yang tidak merata di berbagai daerah di Indonesia merupakan dua faktor terbesar yang berpotensi meningkatkan ketimpangan. Data persebaran tenaga kesehatan masih jauh dari kemerataan. Selain itu fasilitas kesehatan antara satu rumah sakit yang berada di kota kota besar di pulau Jawa jauh berbeda dengan yang ada di daerah pedalaman Kalimantan. APBN Kemenkes sebagai tempat penampungan dana utama tidak terlihat ada yang bertujuan untuk melakukan investasi sarana pelayanan kesehatan secara sistematis di daerah sulit dan tidak ada investasi cukup untuk penyebaran tenaga kesehatan. SJSN yang diharapkan mampu menciptakan keadilan justru di sisi lain dapat memperbesar ketimpangan kesehatan di berbagai daerah apabila berbagai masalah tersebut tidak segera diselesaikan.

Selain itu, pada perkembangan implementasi SJSN terjadi kondisi Adverse Selection, dimana peserta non-PBI (tidak menerima bantuan iur) adalah didominasi populasi yang sakit atau memiliki resiko untuk sakit. Peserta PBI (penerima bantuan iur) yang ikut dalah kelompok miskin. Beberapa daerah dimana dana Non-PBI yang masuk masih sangat kecil penggunaannya banyak, misalnya terjadi di Aceh. Sistem pembayaran INA-CBG yang tidak memiliki batas atas memperparah kondisi ini, semakin banyak yang bisa di klaim, semakin banyak dana SJSN yang bisa didapat oleh rumah sakit atau pelayanan kesehatan selain rumah sakit.

Sistem Jaminan Sosial Nasional atau disingkat SJSN yang barusaja dimulai dan masih menyisakan ketidaksempurnaan dalam berbagai hal ini tampaknya akan mengalami tantangan baru dalam pemerintahan baru NKRI 2014. Presiden terpilih, Jokowi-JK merumuskan Nawa Cita, 9 Program yang akan dilaksanakan pada masa pemerintahannya kelak. Poin ke-5 Nawa Cita merupakan Program Jokowi-JK untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS). Program KIS terlihat begitu menarik karena akan menggratiskan seluruh masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, namun jika dilihat secara seksama, belum ada perencanaan yang matang dengan serta sinkronisasi yang jelas dengan program SJSN yang sedang berjalan. Selain itu, tidak jelas apa perbedaannya dengan SJSN.

Bercermin dari implementasi Kartu Jakarta Sehat (KJS) saat Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta yang memiliki berbagai kekurangan serta dianggap terlalu dini dan belum matang secara managerial untuk diimplementasikan, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap KIS yang tertuang dalam Nawa-Cita Jokowi-JK. Pada saat pelaksanaan KJS beberapa rumah sakit mengundurkan diri dari pelaksanaan KJS karena menimbulkan defisit manajemen keuangan. Bagaimana dengan KIS yang diwacanakan akan diimplementasikan di seluruh rumah sakit di berbagai pelosok di Indonesia? Sementara itu, di sisi lain pelaksanaan SJSN yang sendiri masih perlu dibenahi dalam berbagai hal.

KIS ini adalah sekedar nama baru untuk sensasi ataukah perbaikan nyata di berbagai hal masih merupakan pertanyaan besar. Inilah tugas kita untuk mengawal KIS sehingga tidak menambah carut marutnya SJSN yang diamanatkan Undang-Undang, namun dapat bersinergi dan menyempurnakan pelaksanaan SJSN yang masih jauh dari kesempurnaan.

.EQNEWS OPINI 14 (1)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satu Buku

Ia datang menembus hujan memasuki toko buku. Ini ritual yang ia lakukan setiap bulan, ke toko buku. Ia menyisihkan beberapa lembar uang setiap harinya untuk hari penting ini. Hari saat ia pergi ke toko buku.
Aku sudah empat kali bertemu dengannya. Yaa, karena ini adalah bulan ke empat aku bekerja di toko ini. Setelah mengambil buku lalu menyerahkan uang padaku, ia akan duduk lama di cafe persis di depan toko ini, sebuah tempat ia bisa membeli secangkir kopi, lalu menunggu malam.
Matahari yang bergerak melambai di batas jingga tak mampu mengalihkan perhatian nya dari buku barunya. Buku itu adalah dunia nya saat itu. Hanya buku itu.
Aku mengamati bahwa setiap bulan ia hanya membeli satu buku. Dengan uang yang ia punya aku kira bisa saja ia membeli dua buku, namun ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia hanya akan membeli satu buku. Satu saja.
Pada sore yang ke lima kalinya aku bertemu dengannya, aku memberanikan diri bertanya.
“Satu saja?”
“Iya” jawabnya singkat sambil tersenyum,
Dan pada sore yang kali ini aku mendapatkan jawaban mengapa “satu saja” buku yang ia beli setiap bulannya. Ia bercerita agak lama padaku sore ini,

“Karena dalam hidup kita harus membuat pilihan-pilihan, termasuk memilih buku…

Ia melanjutkan ceritanya dengan berbagai kisah yang cukup membuatku merenung lama setelahnya. Tentang bagaimana membuat pilihan-pilihan dalam hidup.

Pilihan adalah takdir waktu.
Memilih adalah tentang bertahan. Bertahan pada pilihan yang telah kita buat.
Memilih juga tentang bergerak dan mencurahkan perhatian pada pilihan kita, bukan berdiam, bukan pula sibuk memikirkan pilihan-pilihan lain.

“karena memilih itu bukan hanya tentang mendapatkan yang terbaik, tapi merelakan apa yang mungkin sekilas terlihat jauh lebih baik yang tidak kita pilih”

“demikian juga dengan hidup….
terimakasih untuk inspirasimu hari ini, Rul”, kataku.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Trust!

Aku tidak memilih kamu.

Sudah ku katakan dari awal. Aku tidak ingin kamu menjadi pilihanku. Aku tidak memilihmu karena kamu yang terbaik diantara mereka semua. Aku tidak memilih mereka meskipun mereka lebih baik daripadamu. Karena aku tidak akan membandingkan mu. Kamu bukan untuk dibandingkan. Kamu bukan untuk dipilih.
Ketika ada yang bilang kamu seperti ini atau seperti itu, semua tentang sisi buruk mu. Aku tidak bergeming. Masih saja. Karena aku tidak pernah melihat apa sisi baik mu. Itu tidak akan mempengaruhi apapun ketika aku tau sisi buruk mu. Karena sekali lagi aku katakan, aku tidak memilihmu. Aku tidak memilihmu karena sisi baikmu, atau sisi burukmu.
Ada juga yang menyanjung-nyangjungmu di depanku. Kata mereka masa depanmu baik. Ah aku tidak peduli. Karena kamu tahu? Ya, aku tidak melihat pada masa depanmu. Sampai sekarangpun aku tidak tahu masa lalumu. Ingat, aku tidak memilihmu karena masa depanmu atau masa lalu mu. Aku tidak memilihmu.
Lalu kenapa? Aku percaya padamu. Kepercayaan yang tidak akan aku tukar dengan sekedar perbandingan atau sekedar pilihan pilihan.

Aku percaya padamu.

I trust you.

Posted in Uncategorized | Leave a comment